Enam Hewan Liar yang Kerap Muncul di Perkotaan, Waspada Jika Berjumpa
Jelajah Fauna – Perkembangan permukiman manusia terus meluas dari tahun ke tahun. Dari wilayah kecil yang awalnya hanya dihuni beberapa rumah, kawasan tersebut berkembang menjadi desa hingga akhirnya berubah menjadi kota besar. Kota sering dianggap sebagai ruang modern yang jauh dari alam liar. Namun pada kenyataannya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Sebaliknya, sejumlah hewan liar justru mampu beradaptasi dan hidup nyaman di lingkungan perkotaan. Mengutip laporan The Guardian, hewan liar memanfaatkan kota karena menyediakan makanan melimpah dan relatif minim predator alami. Tidak hanya serangga kecil, beberapa hewan yang berpotensi berbahaya juga kerap ditemukan berkeliaran di sekitar permukiman manusia. Berikut enam hewan liar yang sering muncul di kota dan perlu diwaspadai.
Biawak Kerap Muncul di Lingkungan Permukiman
Bagi warga kota besar seperti Jakarta atau Semarang, biawak bukan lagi pemandangan asing. Reptil dengan nama ilmiah Varanus salvator ini sering terlihat di taman kota, saluran air, hingga area perumahan. Dengan panjang tubuh yang bisa mencapai tiga meter, biawak kerap membuat warga resah.
Di satu sisi, biawak berperan sebagai pengendali hama karena memangsa tikus, ikan, katak, hingga ular. Namun di sisi lain, keberadaannya tetap perlu dikendalikan. Jika populasinya meningkat tanpa pengawasan, potensi konflik dengan manusia pun ikut membesar.
Baca Juga : Paus Paling Langka di Dunia: Nama, Ciri, dan Habitatnya
Ular Kobra Nyaman Hidup di Kota
Indonesia memiliki dua jenis kobra, yakni kobra jawa (Naja sputatrix) dan kobra sumatra (Naja sumatrana). Keduanya termasuk ular berbisa tinggi yang berbahaya bagi manusia. Menariknya, kobra cukup sering ditemukan di kawasan perkotaan, khususnya di wilayah Jabodetabek.
Lembaga konservasi satwa mencatat bahwa kobra jawa menjadi salah satu ular berbisa yang paling sering dijumpai di Jakarta. Kota menyediakan sumber makanan yang melimpah, mulai dari tikus, burung, katak, hingga reptil lain. Kondisi ini membuat kobra mampu bertahan dan berkembang di lingkungan manusia.
Sanca Kembang Menghuni Saluran Air Kota
Selain ular berbisa, ular berukuran besar seperti sanca kembang (Malayopython reticulatus) juga kerap ditemukan di kota. Ular ini sering mendiami saluran air, rawa, dan area pemukiman padat. Tidak jarang, sanca kembang berukuran lebih dari empat meter ditemukan di lingkungan perkotaan.
Kemampuan berenang dan memanjat yang baik membuat ular ini mudah beradaptasi. Pola tubuhnya juga berfungsi sebagai kamuflase alami. Meski ukurannya besar, sanca kembang umumnya menghindari manusia dan hanya muncul ketika merasa terganggu atau mencari mangsa.
Bunglon Taman Mudah Beradaptasi di Kota
Bunglon taman (Calotes versicolor) merupakan kadal kecil dengan daya adaptasi luar biasa. Hewan ini banyak ditemukan di taman, kebun, dan halaman rumah. Penyebarannya yang luas membuat bunglon taman menjadi salah satu reptil paling umum di lingkungan perkotaan.
Namun, keberadaan bunglon taman juga menimbulkan masalah. Penelitian menunjukkan bahwa hewan ini bersifat invasif di beberapa wilayah, termasuk Kalimantan. Bunglon taman dapat mengancam populasi hewan asli karena bersaing dalam memperebutkan makanan berupa serangga.
Ular Pucuk Sering Disalahpahami Warga
Ular pucuk (Ahaetulla prasina) juga sering terlihat di area hijau kota seperti taman dan semak-semak. Tubuhnya ramping dengan warna hijau cerah yang menyerupai daun. Meski tampak menyeramkan, ular ini sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia.
Gigitannya hampir tidak menimbulkan efek serius. Sayangnya, kurangnya pengetahuan membuat ular pucuk kerap dibunuh karena dianggap berbisa. Padahal, ular ini berperan penting dalam mengendalikan populasi burung kecil, katak, dan kadal di lingkungan perkotaan.
Kelabang Mengintai di Area Rumah
Kelabang atau lipan merupakan hewan yang paling sering ditemui di sekitar rumah. Hewan dari kelas Chilopoda ini menyukai tempat lembap dan gelap seperti kamar mandi, gudang, dan sela-sela bebatuan. Beberapa spesies kelabang memiliki bisa yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan pembengkakan.
Meski begitu, tidak semua kelabang berbahaya. Kelabang rumah (Scutigera coleoptrata), misalnya, justru membantu mengendalikan hama seperti kecoa dan semut. Kebersihan rumah tetap menjadi kunci utama untuk mengurangi keberadaan hewan ini.
Kota dan Hewan Liar Harus Berdampingan
Kehadiran hewan liar di perkotaan menunjukkan bahwa kota telah menjadi habitat alternatif yang nyaman. Lingkungan ini menawarkan makanan berlimpah dan perlindungan dari predator. Ada hewan yang membawa manfaat, namun ada pula yang berpotensi membahayakan.
Oleh karena itu, kewaspadaan dan pemahaman menjadi hal penting. Dengan pengetahuan yang tepat, manusia dapat belajar hidup berdampingan dengan hewan liar tanpa harus merusak keseimbangan alam maupun membahayakan diri sendiri.