Populasi Badak Jawa di Ujung Kulon Diperkirakan Tinggal 87–100 Ekor, Pakar IPB Ungkap Fakta Mengkhawatirkan
Jelajah Fauna – Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan salah satu hewan purba yang berhasil bertahan hingga zaman modern. Sayangnya, satwa bercula satu ini kini hanya ditemukan di satu tempat di dunia: Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten, Indonesia.
Menurut penuturan Prof. Harini Muntasib, pakar konservasi dari IPB University, badak jawa dulunya tersebar di berbagai wilayah Asia Tenggara. “Dulu mereka dapat ditemukan mulai dari Assam di India, Myanmar, Thailand, Malaysia, hingga Vietnam. Tapi saat ini, populasi yang tersisa hanya ada di Ujung Kulon,” jelasnya dalam sebuah pernyataan pada 30 Juli lalu.
Masuk Kategori Kritis dan Terancam Punah
Sebagai informasi, badak jawa kini diklasifikasikan sebagai “Critically Endangered” atau terancam punah dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). Selain itu, satwa ini termasuk dalam Apendiks I CITES, yang artinya seluruh bentuk perdagangan badak jawa dilarang secara internasional.
Menurut data Balai Taman Nasional Ujung Kulon, populasi badak jawa saat ini diperkirakan hanya berkisar antara 87 hingga 100 ekor. Estimasi ini diperoleh menggunakan metode Model Spatial Count, yakni teknik pemantauan berbasis deteksi kehadiran di wilayah tertentu.
Baca Juga : Gorilla Gunung Rwanda: Primata Terbesar Dunia yang Dilindungi Ketat
Konservasi: Upaya Menyelamatkan dari Kepunahan
Untuk menjawab tantangan keterbatasan habitat, pemerintah Indonesia sejak tahun 2009 telah mengembangkan kawasan khusus konservasi yang dinamakan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Terletak di selatan Gunung Honje, kawasan seluas 5.100 hektare ini masih berada dalam kompleks TNUK.
“Di kawasan JRSCA, fasilitasnya sudah lengkap. Mulai dari kandang untuk pengembangbiakan, hingga sarana bagi peneliti dan petugas lapangan,” terang Prof. Harini. Ia juga menyebutkan bahwa saat ini sedang disiapkan proses translokasi badak dari habitat utama ke JRSCA sebagai upaya meningkatkan ruang berkembang biak dan memperluas keragaman genetik.
Ancaman Serius yang Mengintai Keberlangsungan Populasi
Meskipun berada di kawasan konservasi dan mendapat perlindungan ketat, badak jawa tidak sepenuhnya aman. Ancaman yang dihadapi berasal dari dua sisi: internal dan eksternal.
Ancaman dari Dalam
Beberapa tantangan internal yang dihadapi populasi badak jawa antara lain:
- Risiko inbreeding karena jumlah populasi yang sangat kecil
- Persaingan antar satwa dan potensi pemangsaan
- Invasi tanaman langkap, yang menyebabkan penurunan kualitas habitat alami
Ancaman dari Luar
Sementara itu, faktor eksternal yang membahayakan populasi ini mencakup:
- Penyebaran penyakit dari hewan ternak sekitar
- Ancaman perburuan liar, meskipun dilarang
- Risiko bencana alam, seperti tsunami atau erupsi Gunung Anak Krakatau, yang bisa menghancurkan habitat dalam sekejap
Menjaga Badak Jawa, Menjaga Warisan Dunia
Keberadaan badak jawa bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tetapi juga bagian penting dari menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai herbivora besar, badak jawa memainkan peran vital dalam mengatur vegetasi dan menjaga keseimbangan rantai makanan di hutan hujan tropis.
“Jika badak jawa sampai punah, maka kita bukan hanya kehilangan fauna endemik Indonesia, tetapi juga kehilangan warisan hayati dunia,” tegas Prof. Harini.
Perlu Dukungan Lebih dari Semua Pihak
Melihat statusnya yang sangat kritis, pelestarian badak jawa harus menjadi prioritas bersama. Mulai dari upaya penguatan habitat, dukungan masyarakat lokal, hingga peningkatan riset ilmiah dan konservasi jangka panjang. Indonesia memang memiliki kebanggaan sebagai satu-satunya rumah bagi badak jawa, namun kebanggaan ini datang dengan tanggung jawab besar untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di masa depan.