9 Hewan dengan Perilaku Mirip Manusia, dari Empati hingga Ikatan Sosial
Jelajah Fauna – Perilaku mirip manusia pada hewan kerap menjadi sorotan dalam berbagai penelitian ilmiah. Meski hewan tidak berpikir atau bertindak persis seperti manusia, sejumlah studi menunjukkan bahwa mereka mampu membangun hubungan sosial, mengekspresikan emosi, bahkan memiliki kepribadian yang kompleks. Temuan ini semakin memperkaya pemahaman tentang kecerdasan dan dinamika sosial di dunia satwa.
Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan menemukan bahwa sejumlah hewan dapat merasakan stres, menunjukkan empati, menjalin kedekatan emosional, hingga memilih lingkar sosial yang lebih bermakna seiring bertambahnya usia. Dilansir dari berbagai penelitian yang dirangkum Live Science, berikut sembilan hewan yang menunjukkan perilaku yang sering dianggap “manusiawi”.
Simpanse: Kerabat Terdekat dengan Pola Kepribadian Kompleks
Simpanse (Pan troglodytes) dikenal sebagai kerabat terdekat manusia secara genetik. Penelitian pada 2018 menemukan bahwa simpanse memiliki lima ciri kepribadian utama yang serupa dengan manusia, yakni keterbukaan, kehati-hatian, keramahan, ekstroversi, dan neurotisisme. Simpanse jantan yang lebih ramah cenderung memiliki hubungan sosial lebih kuat dan berumur lebih panjang.
Selain itu, studi pada 2020 menunjukkan bahwa simpanse yang menua lebih memilih lingkar sosial yang lebih kecil namun lebih bermakna, mirip dengan pola sosial manusia saat bertambah usia. Mereka juga diketahui meniru perilaku manusia seperti melambaikan tangan, bertepuk tangan, hingga berciuman. Dalam konteks kelompok, simpanse bahkan terlibat konflik terorganisir untuk mempertahankan wilayah, menyerupai dinamika peperangan antarkelompok pada manusia.
Gorila: Ekspresi Emosi dan Variasi Budaya
Gorila memperlihatkan variasi kepribadian yang berbeda antarindividu maupun antarkelompok. Mereka menggunakan ekspresi wajah serta gerakan tubuh untuk berkomunikasi, layaknya manusia dalam menyampaikan perasaan. Penelitian menunjukkan bahwa gorila mampu mengekspresikan empati, kegembiraan, hingga kesedihan.
Baca Juga : Midas Kucing Viral dengan Empat Telinga dan Lidah Tambahan
Studi tahun 2016 menemukan bahwa budaya dan karakter kelompok gorila berbeda tergantung habitatnya, menyerupai perbedaan budaya manusia di berbagai wilayah. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan perilaku sosial hewan.
Lumba-lumba Hidung Botol: Kepribadian Sosial yang Kompleks
Lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) dikenal sebagai salah satu hewan paling cerdas di laut. Penelitian tahun 2021 mengungkap bahwa mereka memiliki sifat keterbukaan, kemampuan bersosialisasi, serta tingkat ketidaksetujuan tertentu, mirip dengan pola kepribadian manusia dan primata lainnya.
Peneliti juga menemukan sifat tambahan yang disebut directedness, yaitu kombinasi ketelitian dan rendahnya kecemasan. Meski dianggap unik pada lumba-lumba, pola ini tetap mencerminkan kompleksitas perilaku sosial yang selama ini identik dengan manusia.
Gajah Asia: Kesadaran Diri dan Ingatan Kuat
Gajah Asia (Elephas maximus) memiliki otak besar dan ikatan sosial yang kuat. Sebuah studi pada 2006 menunjukkan bahwa gajah mampu mengenali dirinya di cermin, sebuah kemampuan yang juga dimiliki manusia sebagai bentuk kesadaran diri.
Tak hanya itu, gajah dikenal memiliki ingatan jangka panjang yang luar biasa. Penelitian pada 2023 bahkan menunjukkan bahwa gajah mengalami proses “domestikasi diri” secara evolusioner, yang membuat mereka lebih mudah bersosialisasi dan kurang agresif, mirip perkembangan sosial manusia.
Orca: Budaya Keluarga yang Erat
Orca (Orcinus orca) hidup dalam kelompok keluarga yang sangat erat. Mereka berburu bersama, berbagi makanan, dan memiliki pola komunikasi yang kompleks. Struktur sosial ini menyerupai sistem keluarga besar pada manusia.
Penelitian terhadap orca di penangkaran menunjukkan bahwa mereka memiliki sifat ekstroversi. Selain itu, lingkungan tempat mereka hidup juga memengaruhi perilaku, sebagaimana manusia yang dipengaruhi faktor sosial dan budaya.
Tikus: Perilaku Prososial dan Empati
Meski sering dianggap hewan sederhana, tikus ternyata menunjukkan perilaku prososial. Studi pada 2011 menemukan bahwa tikus bersedia membantu tikus lain yang terjebak tanpa imbalan. Bahkan, eksperimen klasik tahun 1958 menunjukkan bahwa tikus menolak mendapatkan makanan jika tindakan tersebut menyebabkan tikus lain tersengat listrik.
Perilaku ini dianggap menyerupai empati dan rasa kepedulian yang biasanya dikaitkan dengan manusia.
Anjing: Respons Empati terhadap Manusia
Anjing (Canis lupus familiaris) dikenal memiliki kedekatan emosional dengan manusia. Penelitian tahun 2018 menunjukkan bahwa anjing cenderung mendekati dan berusaha menghibur manusia yang sedang menangis. Respon tersebut mencerminkan bentuk empati.
Menariknya, anjing yang mampu mengendalikan stresnya sendiri justru lebih cepat memberikan respons terhadap kesedihan pemiliknya. Hal ini memperlihatkan adanya kontrol emosi yang kompleks dalam interaksi manusia dan hewan peliharaan.
Kuda: Membaca Ekspresi dan Emosi
Kuda (Equus caballus) terbukti mampu mengenali ekspresi wajah manusia. Studi tahun 2018 menunjukkan bahwa kuda dapat menghubungkan suara dan ekspresi wajah dengan kondisi emosional tertentu. Kemampuan ini membantu mempererat hubungan antara kuda dan pengasuhnya.
Dengan kata lain, interaksi antara kuda dan manusia bukan sekadar respons naluriah, melainkan melibatkan pemahaman emosional yang cukup mendalam.
Kucing Domestik: Ikatan Emosional dan Hormon Oksitosin
Kucing (Felis catus) juga menunjukkan kemampuan membangun ikatan emosional dengan manusia. Studi tahun 2020 menemukan bahwa kucing melepaskan hormon oksitosin saat dielus, hormon yang sama dilepaskan manusia ketika merasakan kedekatan emosional.
Namun demikian, penelitian lain menunjukkan bahwa kucing cenderung menunjukkan kecemburuan lebih sering dibanding empati. Hal ini mengingatkan bahwa kompleksitas emosi bukan hanya milik manusia, tetapi juga bagian dari dinamika perilaku hewan.
Kompleksitas Perilaku Hewan Semakin Terungkap
Temuan mengenai hewan dengan perilaku mirip manusia menunjukkan bahwa batas antara dunia manusia dan satwa tidak selalu tegas. Dari simpanse hingga kucing domestik, berbagai spesies memperlihatkan kemampuan sosial dan emosional yang kompleks.
Meskipun tidak identik dengan manusia, perilaku tersebut memperkaya pemahaman ilmiah tentang kecerdasan hewan dan evolusi sosial. Dengan semakin banyak penelitian dilakukan, bukan tidak mungkin daftar hewan dengan perilaku “manusiawi” akan terus bertambah di masa depan.