Biawak Tanpa Telinga Borneo, Penghuni Sungai dengan Penampilan Unik
Jelajah Fauna – Biawak tanpa telinga Borneo merupakan reptil bernama ilmiah Lanthanotus borneensis. Tubuh cokelat dan sisiknya yang menonjol membuat penampilannya mudah menarik perhatian. Namun, kehidupan hewan ini justru jauh dari keramaian. Ia menghabiskan waktunya di sekitar perairan dan tempat persembunyian yang lembap. Sebagai satwa semiakuatik, reptil ini menjalani aktivitas di darat sekaligus di air. Keunikannya juga melampaui bentuk tubuh. Lanthanotus borneensis merupakan satu-satunya spesies yang masih hidup dalam famili Lanthanotidae. Dengan demikian, mengenalnya membuka cerita tentang salah satu cabang kehidupan reptil yang khas.
Nama Tanpa Telinga Bukan Berarti Tidak Mendengar
Sekilas, bagian kepala reptil ini memang tidak memperlihatkan lubang telinga luar. Dari ciri tersebut, muncul sebutan biawak tanpa telinga. Meskipun demikian, hewan ini tetap memiliki kemampuan mendengar. Nama genusnya, Lanthanotus, berarti “telinga tersembunyi”, sedangkan borneensis merujuk pada Borneo sebagai daerah asalnya. Franz Steindachner mendeskripsikan spesies ini pada 1878. Kisah penamaannya mengingatkan bahwa sebutan populer tidak selalu menjelaskan seluruh kemampuan hewan. Karena itu, penampilan luarnya perlu dipahami bersama informasi biologisnya agar tidak menimbulkan anggapan yang keliru.
Endemis Borneo dengan Sebaran di Beberapa Wilayah
Biawak tanpa telinga merupakan satwa endemis Pulau Borneo. Artinya, sebaran alaminya terbatas pada pulau tersebut, bukan hanya wilayah Indonesia. Catatan keberadaannya mencakup Sarawak di Malaysia serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara di Indonesia. Selain itu, keberadaannya juga terkonfirmasi di Distrik Temburong, Brunei, pada 2022. Persebaran ini menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati tidak mengikuti batas administratif manusia. Meski hidup di satu pulau, satwa ini menghuni wilayah beberapa negara. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai asalnya lebih tepat menggunakan cakupan Borneo secara keseluruhan.
Sungai dan Lingkungan Lembap Menjadi Habitatnya
Reptil ini ditemukan di dataran rendah, umumnya pada ketinggian di bawah 300 meter. Habitatnya berkaitan dengan aliran sungai kecil, rawa, dan lingkungan lembap. Banyak lokasi berada di hutan hujan, dengan sungai berbatu sebagai bagian dari tempat hidupnya. Namun, catatan penemuan juga mencakup aliran air yang melewati kebun dan lahan pertanian. Kehadirannya di lingkungan yang berubah tidak otomatis berarti semua kawasan tersebut cocok untuk kehidupannya. Menurut saya, hal paling menarik adalah keterikatannya pada habitat kecil di sekitar air. Bagian alam yang tampak sederhana ternyata menyimpan kehidupan yang khas.
Sisik Menonjol Membentuk Penampilan yang Khas
Biawak tanpa telinga Borneo memiliki tubuh memanjang, leher panjang, dan kaki pendek dengan cakar tajam. Matanya kecil, sementara enam baris sisik menonjol membentang sepanjang tubuh. Kombinasi tersebut menghasilkan penampilan yang kasar dan bertekstur. Bagian atas tubuh umumnya berwarna cokelat jingga. Sementara itu, bagian bawah memperlihatkan variasi bercak gelap dan warna lebih pucat. Ukuran tubuhnya juga jauh dari gambaran biawak besar yang sering dikenal masyarakat. Sebagai contoh, satu individu liar tercatat memiliki panjang total 44,1 sentimeter, termasuk ekor. Angka tersebut merupakan catatan individu, bukan ukuran semua anggota spesies.
Baca Juga : Burung Pemangsa Ini Punya Penglihatan Tajam yang Sulit Ditandingi
Malam Hari Menjadi Waktu Aktivitas Utama
Ketika lingkungan mulai gelap, biawak tanpa telinga umumnya menjalankan aktivitasnya. Sebaliknya, pada siang hari, ia lebih sering bersembunyi di dekat air. Tempat perlindungannya dapat berupa liang, bagian bawah kayu, batu, atau vegetasi. Meski gerakannya sering terlihat lambat, reptil ini mampu bergerak cepat saat terkejut. Dalam pengamatan penangkaran, individu juga dapat berada di bawah air selama berjam-jam. Sesekali, ia mengangkat hidung ke permukaan untuk bernapas. Pola tersebut membantu menjelaskan mengapa kehidupan hewan ini tidak mudah terlihat melalui pengamatan singkat.
Makanannya Berasal dari Lingkungan Sekitar
Cacing tanah, krustasea, dan ikan termasuk makanan biawak tanpa telinga. Pilihan tersebut sesuai dengan kehidupannya di sekitar tanah lembap dan perairan. Selain itu, reptil ini memiliki kemampuan menarik: menelan mangsa ketika berada di bawah air. Perilaku tersebut menambah gambaran tentang kedekatannya dengan habitat perairan. Namun, daftar makanan dari pengamatan penangkaran tidak selalu mencerminkan seluruh pola makan di alam. Karena itu, memahami kebiasaan makannya memerlukan perhatian pada tempat dan kondisi pengamatan. Kehidupan liar tetap menyimpan rincian yang belum sepenuhnya diketahui.
Perkembangbiakannya Masih Menyimpan Banyak Pertanyaan
Biawak tanpa telinga berkembang biak dengan bertelur. Catatan pengamatan menyebut jumlah telur sekitar 2–12 butir, dengan telur diletakkan di darat. Dalam penangkaran, penetasan pernah berlangsung sekitar tiga bulan pada suhu 27 derajat Celsius. Akan tetapi, catatan tersebut tidak dapat langsung dianggap berlaku dalam semua keadaan di alam. Informasi mengenai perkembangbiakan dan umur hidupnya masih terbatas. Justru keterbatasan ini membuat penelitian habitat alaminya penting. Bagi saya, daya tarik satwa ini terletak pada perpaduan penampilan yang mencolok dan kehidupan yang masih menyimpan banyak pertanyaan.