Bolehkah Memelihara Burung Hantu di Rumah? Simak Penjelasan Lengkapnya
Jelajah Fauna – Pertanyaan mengenai boleh tidaknya memelihara burung hantu sering muncul di masyarakat. Banyak orang tertarik karena bentuknya unik dan karismatik. Namun sebelum mengambil keputusan, penting memahami karakter dasar burung ini. Burung hantu atau Strigiformes memiliki sekitar 250 spesies yang tersebar hampir di seluruh dunia. Dua familinya adalah Tytonidae dengan wajah bulat serta Strigidae yang memiliki wajah berbentuk hati. Setiap jenis hadir dengan ukuran, pola, dan warna berbeda, tetapi semuanya memiliki cakar tajam dan paruh bengkok untuk berburu mangsa.
Karakter Burung Hantu sebagai Predator
Burung hantu merupakan hewan karnivora yang mayoritas memakan hewan pengerat. Sebagian lainnya juga menyantap burung kecil, ikan, serangga, hingga hewan lebih besar seperti rubah. Aktivitas berburu mereka lebih sering dilakukan malam hari. Hal ini didukung kemampuan eyeshine, yaitu pancaran cahaya berwarna oranye atau merah dari mata mereka ketika disinari pada malam hari. Mata tersebut dirancang untuk melihat sempurna dalam gelap. Saat menangkap mangsa, burung hantu biasanya hinggap di tempat tinggi atau terbang melayang sebelum menukik dengan cepat.
Cara Burung Hantu Mengonsumsi Mangsa
Baca Juga : Kucing Batu Asia, Pemburu Kecil yang Sulit Terlihat
Insting berburu burung hantu bekerja sangat efisien. Mereka menangkap mangsa dan memakannya secara utuh atau dalam potongan besar. Sisa bulu, tulang, atau bagian tubuh lain yang tidak bisa dicerna akan dimuntahkan kembali. Proses ini merupakan cara alami tubuh mereka untuk menjaga sistem pencernaan tetap sehat. Karena itu, burung hantu tidak cocok disamakan dengan burung peliharaan biasa.
Aturan untuk Memelihara Burung Hantu
Menurut Steve Malowski, ketua departemen burung Cincinnati Zoo, ada aturan ketat sebelum seseorang diperbolehkan memelihara burung hantu. Selain itu, pemilik harus memiliki kemampuan khusus untuk menangani raptor atau burung pemangsa. Jika tidak, risiko cedera bisa terjadi karena burung hantu terbiasa berburu dan menyerang mangsa secara spontan.
Membutuhkan Ruang Tinggal yang Luas
Jika Anda berniat memeliharanya, burung hantu membutuhkan ruang yang besar. Mereka tidak bisa hidup nyaman dalam kandang kecil. Selain itu, Anda harus menggunakan sangkar berbahan logam atau kawat kuat, karena cakar burung hantu dengan mudah merusak sangkar kayu. Keterbatasan ruang dapat membuat burung hantu stres dan agresif.
Aktif pada Malam Hari dan Menghasilkan Suara Bising
Burung hantu adalah hewan nokturnal. Mereka jauh lebih aktif pada malam hari dibanding siang. Akibatnya, suara desisan, gesekan sayap, atau suara khas burung hantu bisa mengganggu waktu tidur manusia. Hal ini sering tidak disadari calon pemilik sebelum memutuskan memelihara burung tersebut.
Perilaku yang Cenderung Merusak
Sebagai predator alami, burung hantu memiliki insting kuat untuk menangkap dan merobek sesuatu. Mereka bisa mencabik perabot rumah, seperti bantal, sofa, atau pakaian. Selain itu, tidak menutup kemungkinan burung hantu menyerang hewan peliharaan lain atau bahkan anggota keluarga jika merasa terancam.
Burung Hantu Tidak Suka Disentuh
Tidak seperti burung peliharaan lain, burung hantu tidak nyaman dengan sentuhan manusia. Mereka bisa menyerang dengan cakar atau paruh jika merasa terganggu. Karena sifatnya yang liar, burung hantu sangat sulit dilatih. Ini menjadi alasan kuat mengapa burung ini tidak ideal untuk dipelihara di rumah biasa.
Membutuhkan Makanan Khusus
Burung hantu hanya makan daging segar dan tidak bisa diberi pakan seperti burung hias pada umumnya. Jenis makanannya juga spesifik, seperti tikus, anak ayam, atau daging mentah. Sisa makanannya akan menghasilkan kotoran berbau tajam, sehingga pemilik harus siap dengan konsekuensinya.
Kesimpulan: Boleh atau Tidak Memelihara Burung Hantu?
Jawaban mengenai boleh atau tidaknya memelihara burung hantu kembali pada kemampuan, kesiapan, dan komitmen Anda. Burung hantu adalah satwa liar yang kompleks dan sulit dirawat. Jika tidak dilakukan dengan benar, pemeliharaan bisa merugikan kedua belah pihak: pemilik dan burung itu sendiri. Oleh karena itu, pikirkan matang-matang sebelum memutuskan menjadikannya peliharaan di rumah.