Geger! Penemuan Ubur-Ubur Bermata 24 di Kolam Hong Kong
Jelajah Fauna -Peneliti di Hong Kong baru-baru ini menemukan spesies ubur-ubur baru yang unik dengan 24 mata, bernama Tripedalia maipoensis. Spesies ini ditemukan di kolam udang Cagar Alam Mai Po. Makhluk mungil ini berukuran hanya setengah inci, sehingga sulit terlihat di air kolam yang keruh.
Penambahan Anggota Baru Keluarga Tripedaliidae
Penemuan ini menambah anggota keempat dalam famili Tripedaliidae, kelompok ubur-ubur kotak yang terkait erat. Secara global, ubur-ubur kotak merupakan kelompok cnidaria kecil dengan hanya 49 spesies yang diketahui hingga saat ini. Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Qiu Jianwen dari Hong Kong Baptist University (HKBU), seorang ahli biologi kelautan yang fokus pada respons ekosistem pesisir terhadap perubahan dan studi invertebrata laut.
Lokasi dan Kondisi Kolam Penemuan
Pengambilan sampel dilakukan hingga 2022, di malam hari, dari kolam udang yang berada di antara hutan bakau dan muara terbuka. Muara adalah wilayah di mana sungai bertemu laut, sehingga air pasang menyegarkan kolam. Air kolam bersifat payau, campuran antara air tawar dan laut yang agak asin. Di tengah air berwarna cokelat kehijauan ini, ubur-ubur transparan bisa meluncur dengan sulit terlihat kecuali diamati sangat teliti.
Baca Juga : Ikan Blackfin Cisco yang Kini Hanya Hidup Dalam Sejarah
Ciri Fisik Tripedalia maipoensis
Tripedalia maipoensis memiliki lonceng transparan berbentuk kubus membulat, berukuran sekitar enam persepuluh inci. Di setiap sudut loncengnya, terdapat tiga pedalia datar—bantalan otot yang menjangkar tentakel memanjang keluar dan membantu mendorong air saat berenang. Setiap pedalia membawa satu tentakel yang bisa mencapai panjang empat inci. Velarium tipis-lembaran otot sebagian menutup bukaan lonceng dan memfokuskan semburan air, sehingga ubur-ubur ini bisa berenang lebih cepat dibandingkan ubur-ubur lain.
Bukti sebagai Spesies Baru
Untuk memastikan keaslian spesies baru ini, tim peneliti memeriksa Tripedalia maipoensis di bawah mikroskop. Ubur-ubur ini memiliki kemiripan dengan kerabatnya dari Karibia, Tripedalia cystophora, tetapi berbeda pada beberapa ciri kunci: tiga pedalia di setiap sudut lonceng, satu tentakel per bantalan, dan saluran bercabang pada velarium.
Selain pemeriksaan fisik, para ilmuwan membangun filogeni menggunakan DNA beberapa gen, termasuk rRNA 16S. Analisis ini menunjukkan perbedaan 17,4 persen dengan Tripedalia cystophora, cukup signifikan untuk mendukung penamaan spesies baru.
Mata Unik dan Fungsinya
Seperti kerabat dekatnya, Tripedalia maipoensis membawa 24 mata yang tersusun dalam empat kelompok di struktur bernama rhopalia. Setiap kelompok memiliki dua mata lensa besar untuk penglihatan detail dan empat mata pit serta slit untuk mendeteksi cahaya. Mata-mata ini memungkinkan ubur-ubur menavigasi akar bakau, menghindari rintangan, dan berburu mangsa.
Perilaku dan Kemampuan Navigasi
Meskipun tubuhnya lunak dan kecil, ubur-ubur kotak ini menunjukkan perilaku kompleks. Mereka bisa berenang cepat, menghindari rintangan, dan mempertahankan posisi di tambalan cahaya matahari tempat krustasea kecil berkumpul. Penelitian dengan Tripedalia cystophora menunjukkan kemampuan pembelajaran asosiatif, di mana ubur-ubur menyesuaikan cara berenang setelah menabrak rintangan. Sistem saraf pusat pada ubur-ubur ini mengoordinasikan sinyal dari mata dan otot meskipun tanpa otak tunggal.
Signifikansi Penemuan
Tripedalia maipoensis adalah ubur-ubur kotak pertama yang dilaporkan secara resmi dari perairan pesisir Tiongkok. Habitatnya di kolam udang dekat kota menunjukkan bahwa lanskap buatan manusia pun bisa menyembunyikan spesies baru. Penemuan ini menambah biodiversitas lokal dan menegaskan bahwa lahan basah yang tampak sudah dieksplorasi bisa menyimpan kehidupan tersembunyi. Studi ini dipublikasikan di jurnal Zoological Studies, seperti dilansir Earth.com.
Dengan penemuan ini, para ilmuwan menyoroti pentingnya konservasi dan eksplorasi lahan basah, yang masih menyimpan rahasia ekosistem laut yang menakjubkan.